My Father – II

Posted on Updated on

THE LAST 18 DAYS WITH MY FATHER

Hari ke 5: Rabu, 26 Maret 2014

Hari kedua di Mekkah:

Karena melihat ayah kelelahan maka kami putuskan untuk shalat Subuh di Hotel. Sebenarnya sayang sekali melewatkan ibadah shalat wajib di Masjidil Haram yang disebutkan pahalanya setara dengan 100.000 kali dari shalat di masjid lainnya. Aku tidak berani berlama-lama meninggalkan ayah sendirian, takut ayah terkena serangan jantung yang datang tiba-tiba. Hal ini menyebabkan aku tidak leluasa berkeliling melihat-lihat kota Mekkah, Madinah dan Jeddah. Hal ini tidak kusesali, karena hal yang lebih berharga bagiku adalah menjaga kesehatan ayah agar kami dapat kembali dengan selamat ke Indonesia.

Hari ini agenda dilanjutkan dengan wisata religi mengunjung Jabal (bukit) Tsur, Arafah, Muzdalifah, Mina, Jabal Rahmah dan diakhiri mengunjungi masjid Jiranah untuk shalat Zuhur dan bagi yang mau melaksanakan umroh dapat mengambil miqat di sini.

Jabal Tsur
Di Jabal Tsur

Kunjungan pertama kami menuju ke Jabal Tsur yang dapat ditempuh sekitar 20 menit dari Mekkah. Bukit Tsur adalah bukit yang menjadi saksi sejarah keajaiban yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Bukit ini digunakan Rasulullah SAW untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir ketika hendak Hijrah ke Madinah. Kami berada di sini sekitar 15 menit kemudian dilanjutkan perjalanan menuju Jabal Rahmah.

Jabal Rahmah 1
Di Jabal Rahmah

Dikisahkan di Jabal Rahmah inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu kembali setelah terpisah saat diturunkan ke bumi. Ayah mempersilahkanku jika ingin ke naik ke puncak. Karena bukit ini sangat terjal sehingga ayahku tidak ikut naik ke puncaknya dan memutuskan menungguku di bawah. Aku mendaki Jabal Rahmah dengan melangkah agak cepat, sekitar 10 menit kemudian aku sudah sampai di puncak Jabal Rahmah. Sambil mengawasi ayah dari ketinggian, aku sempatkan berdoa agar keluargaku dapat terus bersama sebagai suami istri sebagaimana Nabi Adam dan Hawa. Aku tidak berlama-lama di sini mengingat kondisi ayah yang dapat tiba-tiba kambuh. Sekitar 5 menit aku di puncak lalu bergegas turun menghampiri ayah yang duduk menungguku.

Puncak Jabal Rahmah
Puncak Jabal Rahmah
Jabal Rahmah
Di Jabal Rahmah

Selain tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa, Jabal Rahmah juga jadi tempat bersejarah bagi perjalanan Nabi Muhammad SAW. Di sanalah beliau menerima wahyu terakhir dari Allah. Sekitar 1 jam di Jabal Rahmah, kami melewati wilayah Arafah dan Mina sebelum tiba di Jiranah.

Muzdalifah
Muzdalifah

Perjalanan diakhiri dengan perjalanan menuju Jiranah untuk melakukan Miqat ibadah umrah kami yang kedua. Al Jiranah berjarak lebih kurang 26 km sebelah selatan kota Mekkah. Sebelum miqat, kami diingatkan untuk melaksanakan dengan tuntas niat umroh kedua (sunnah) karena jika sudah berniat namun berubah pikiran, maka diwajibkan membayar dam (denda) satu ekor kambing. Umroh yang kedua ini kita diperbolehkan mengumrohkan orang yang sudah meninggal.

Lintasan Sai
Di Lintasan Sa’i

Aku tawarkan kepada ayah apakah masih sanggup melanjutkan umroh sunah untuk orang tercinta kita yang sudah meninggal. Dengan mantap ayah menjawab sanggup dan berniat melaksanakan umroh kedua ini untuk almarhumah ibundanya dan aku mengumrohkan nenekku dari sebelah ibu. Niat umroh kedua kami mulai dengan shalat sunah umroh di masjid Jiranah. Selanjutnya dengan bus kami kembali menuju Masjidil Haram di Mekkah dan menyelesaikan rangkaian ibadah umroh sebagaimana hari pertama.

Melaksanakan Sa'i
Melaksanakan Sa’i

Pelaksanaan tawaf dan sa’i hari kedua lebih melelahkan dibandingkan hari pertama. Ayah yang duduk di kursi roda sebenarnya terlihat lelah sore itu. Kami sempat beberapa kali berhenti untuk beristirahat melemaskan otot betis yang terasa tegang. Alhamdulillah kami berhasil menyelesaikan umrah kedua.

Malamnya sekitar pukul 11 malam tiba-tiba ayah membangunkan aku yang tertidur kelelahan. Kulihat ayah meraba dada sebelah kirinya dan meminta obat. Ayahku kena serangan jantung kembali untuk keempat kalinya bersamaku. Segera kuberikan obat dan kubaluri dada dan punggungnya dengan balsem gosok. Bersyukur kondisi ayah kembali membaik dan dapat tidur nyenyak hingga subuh.

Hari ke 6: Kamis, 27 Maret 2014

Hari ketiga di Mekkah:

Sekitar pukul 04.00 subuh ayah kubangunkan untuk persiapan shalat Subuh di Masjidil Haram. Kami tiba di Masjid menjelang tiba waktunya shalat dan jamaah shalat Subuh sudah meluber sampai di halaman masjid yang sangat luas. Karena kesulitan lewat mendorong kursi roda akhirnya kami putuskan untuk shalat di halaman dekat gerbang masuk Masjidil Haram yang disebut King Abdul Aziz Gate.

Subuh @ Tower
Persiapan Shalat Subuh
Shalat Subuh di King Abdul Aziz Gate
Shalat Subuh di depan King Abdul Aziz Gate

Selesai shalat Subuh kami bergegas pulang ke hotel untuk sarapan dan pukul 8 akan wisata mengunjungi peternakan Unta. Ada banyak kelompok unta yang diternakkan di kiri kanan jalan Mekkah – Hudaibiyah. Jangan dibayangkan bentuk peternakannya seperti di Indonesia. Peternakan unta ini ada di padang pasir yang tidak ada rumputnya, tidak beratap dan kandang berpagar selayaknya peternakan sapi di Indonesia. Rumah penjaga peternakanpun bangunannya sangat sederhana. Makanan unta berupa rumput dalam bentuk blok kotak-kotak yang didatangkan dari daerah lain.

Peternakan Unta
Peternakan Unta
Rumput makanan Unta
Rumput makanan Unta

Di peternakan unta ini ditawarkan susu unta segar yang diperas saat itu juga. Harga per botol air mineral ukuran 330 ml dihargai 5 Real. Aku membeli 2 botol, dan setelah diminum terasa lebih kental, lebih manis dan gurih dibandingkan susu sapi. Berikutnya kami menuju Masjid Hudaibiyah yang berjarak sekitar 25 km dari masjidil Haram untuk miqat yang ketiga bagi yang mau. Hudaibiyah adalah tempat terjadinya Perjanjian Hudaibiyah.

Susu Unta Segar
Susu Unta Segar
Susu Unta Segar
Susu Unta Segar

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Kaum Muslimin Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dengan kaum musyrikin Mekkah. Ini terjadi pada tahun ke-6 setelah beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah. Pada saat itu rombongan Kaum Muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad SAW hendak melakukan ibadah Haji. Namun mereka dihalang-halangi masuk ke Mekkah oleh Suku Quraisy. Maka setelah terjadi negosiasi, kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan perjanjian damai.

Masjid di Hudaibiyah
Masjid di Hudaibiyah

Kembali kutawarkan kepada ayah apakah masih sanggup melaksanakan umroh ketiga. Ayah dengan mantap menjawab masih sanggup. Kali ini ayah akan mengumrohkan almarhum ayahnya dan aku mengumrohkan almarhum kakekku dari sebelah ibu. Tampaknya motivasi untuk mengumrohkan kedua orangtuanya membuat ayah menjadi bersemangat dan tampak kuat. Aku kagum dengan semangat ayah dimana dengan kondisi fisiknya yang seperti itu masih berniat mengumrohkan orang tuanya. Setelah memakai kain ihram dan shalat sunat di masjid Hudaibiyah yang sederhana kami memulai rangkaian ibadah umroh yang ketiga. Alhamdulillah, umroh ketiga kami berjalan lancar dan kondisi ayah baik-baik saja.

Hari ke 7: Jumat, 28 Maret 2014

Hari keempat di Mekkah:

Hari ini adalah hari terakhir kami di Mekkah untuk selanjutnya menuju Madinah. Pukul 04.30 kami menuju Masjidil Haram untuk menunaikan shalat Subuh sekalian melaksanakan Tawaf Wada. Tawaf Wada atau tawaf perpisahan adalah salah satu ibadah yang dilaksanakan sebagai pernyataan perpisahan dan penghormatan kepada Baitullah dan Masjidil Haram. Kami sengaja tawaf wada setelah shalat subuh dengan tujuan menghindari teriknya matahari dan di hari jumat jamaah akan segera padat mendatangi masjid untuk shalat Jumatan.

Persapan Tawaf Wada
Persapan Tawaf Wada usai Shalat Subuh
Usai Tawaf Wada
Usai Tawaf Wada
Usai Tawaf Wada
Usai Tawaf Wada

Pukul 11.30 kami keluar hotel menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Jumat. Yang kami dapati halaman masjid pun sudah penuh sesak dengan jamaah sehingga kami bergabung dengan orang-orang yang shalat di jalan dan trotoar. Kami sengaja mengambil tempat di trotoar depan sebuah kantor karena setelah menyelesaikan tawaf wada tidak diperkenankan lagi masuk ke Masjidil Haram. Selain itu juga agar lebih mudah kembali ke hotel mengingat bus yang akan membawa kami ke Madinah akan diberangkatkan pukul 14.00.

Jumatan di Trotoar
Shalat Jumat di Trotoar

Sekitar pukul 15.00 bus yang membawa rombongan kami akhirnya berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, sekitar pukul 18.00 bus berhenti di sebuah Rest Area di tengah padang pasir berbatu untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk shalat Magrib. Jarak tempuh Mekkah – Madinah sekitar 450 km dapat ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam termasuk waktu istirahat di Rest Area. Walaupun jalanan lebar, mulus dan relatif datar serta lurus kecepatan bis hanya dibatasi maksimal 120 km/jam. Apabila melanggar dan tertangkap kamera maka akan dikenakan denda.

Padang Pasir antara Mekkah - Madinah
Padang Pasir antara Mekkah – Madinah
Padang Pasir antara Mekkah - Madinah
Padang Pasir antara Mekkah – Madinah

Di jalanan yang lurus, mulus dan lebar menuju Madinah terbentang padang pasir berbatuan yang tiada habisnya. Sepanjang mata memanjang terlihat padang pasir yang tandus dan bukit bebatuan yang gersang di kejauhan. Terbayang betapa berat dan berbahayanya perjalanan Rasulullah saat hijrah dan dikejar-kejar kaum kafir melintasi lautan padang pasir yang tandus dan terik serta melintasi bukit bebatuan yang gersang dalam perjalanan selama 8 hari menuju desa Quba sebelum ke Madinah. Saat ini perjalanan tersebut dapat ditempuh sekitar 6 saja kita masih mengeluh lama dan tidak sabar untuk sampai ke tujuan.

Padang Pasir antara Mekkah - Madinah
Padang Pasir antara Mekkah – Madinah
Padang Pasir antara Mekkah - Madinah
Padang Pasir antara Mekkah – Madinah

Sekitar pukul 21.00 kami tiba di Dar Alnaeem Hotel di Madinah. Tiba di hotel kami langsung makan malam yang sudah disediakan. Selesai makan malam kami langsung menuju ke kamar. Jarak dari hotel ke Masjid Nabawi cukup dekat, hanya sekitar 300 m. Namun melihat kondisi ayah yang kelelahan maka kami putuskan malam ini kami shalat Isya’ di hotel saja.

Dar Alnaeem Hotel Jeddah
Dar Alnaeem Hotel Jeddah

Hari ke 8: Sabtu, 29 Maret 2014

Hari Pertama di Madinah:

Tidak ada agenda tour dari pihak travel sehingga kami fokus melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi. Ketika semalam kami sampai di Madinah pukul 21.00 kami sempat melewati jalan di depan Masjid Nabawi. Namun karena kondisi fisik ayah yang kelelahan maka aku memendam sementara keinginan untuk segera ke masjid dimana Rasulullah SAW dimakamkan. Masjid yang sangat indah arsitekturnya dan modern dengan payung-payung yang dapat membuka tutup otomatis untuk menaungi jamaah yang ada di halaman masjid.

Halaman Masjid Nabawi
Halaman Masjid Nabawi
Di Masjid Nabawi
Menunggu Shalat Subuh Di Masjid Nabawi

Kegiatan hari ini diawali dengan shalat subuh di Masjid. Sekitar pukul 04.30 kami bergegas menuju masjid Nabawi yang berjarak 300 m dari hotel. Di masjid keadaan sudah ramai dengan jamaah yang akan menunaikan shalat Subuh. Selesai shalat Subuh aku dan ayah yang berada di kursi roda menyusuri bagian dalam masjid untuk mencari lokasi Raudah dan makam nabi Muhammad SAW. Dikatakan bahwa Raudah adalah tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa. Shalat di Masjid Nabawi pahalanya sama dengan 10.000 kali dibandingkan salat di masjid lain.

Interior Masjid Nabawi
Interior Masjid Nabawi
Interior Masjid Nabawi
Interior Masjid Nabawi

Mendekati area Raudah kerumunan jamaah sangat padat yang ingin memasuki Raudah, aku merasa tidak memungkinkan untuk ikut berdesakan dengan mendorong ayah di kursi roda. Akhirnya kami memutuskan untuk berdoa di depan makam nabi Muhammad SAW. Puas rasanya dapat mengunjungi Rasulullah SAW walaupun hanya melihat fisik makamnya. Nama yang selama ini hanya disebut di dalam shalat dan doa. Kami tidak dapat berlama-lama di sini karena ada Askar yang bertugas mengingatkan dan menggiring jamaah yang berlama-lama disini. Di bagian ini banyak jamaah yang duduk-duduk sambil membaca Al-Quran.

Mimbar Masjid Nabawi
Mimbar Masjid Nabawi
Masjid Nabawi
Masjid Nabawi

Selanjutnya kami keluar dan menyusuri halaman samping masjid. Dari sini kami dapat melihat satu kubah yang berwarna hijau yang menaungi makam Nabi Muhammad SAW. Puas berkeliling Masjid Nabawi selanjutnya kami pulang ke hotel untuk sarapan pagi dan beristirahat. Kegiatan hari ini diisi dengan shalat 5 waktu di Masjid Nabawi sambil beristirahat untuk memulihkan tenaga setelah menempuh perjalanan 6 jam tadi malam.

Kubah Hijau Masjid Nabawi
Kubah Hijau Masjid Nabawi

Bersambung ke bagian III ……….

Silahkan tinggalkan komentar anda. No SARA dan Iklan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s