MEMBERI JALAN [vs HAK UTAMA] DI JALAN RAYA

Posted on Updated on

Rambu Beri Jalan (Give Way) (sumber:Wikipedia.org)
Rambu Beri Jalan (Give Way)
(sumber: Wikipedia.org)

Saat ini kita sepertinya sangat egois di jalan raya. Kita sering kali melihat sepertinya semua orang ingin duluan dan bersicepat tiba di tujuan. Sehingga yang terjadi malah membahayakan orang lain, memotong antrian, menghambat pergerakan lalu lintas, membuat macet bahkan stagnan alias macet total. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi. Menurut saya hal ini dapat dihindari jika kita mematuhi alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), Rambu dan Marka jalan, toleran (tenggang rasa) dan memberikan hak utama jalan kepada pengemudi lain.

Persimpangan merupakan salah satu titik konflik lalu lintas yang sering mengakibatkan kemacetan. Pertemuan arus lalu lintas dari beberapa arah akan bertemu di persimpangan. Apabila tidak diatur dan kita tidak tertib maka kemacetan lalu lintas akan timbul.

Rambu Berhenti (Stop)
Rambu Berhenti (Stop)

Kita sering menjumpai keberadaan 2 jenis rambu lalu lintas di atas pada persimpangan yang tidak terpasang APILL, yaitu : Rambu Beri Jalan/Kesempatan (Give Way) dan Rambu Berhenti (Stop). Rambu ini dipasang tentu mempunyai tujuan agar lalu lintas di persimpangan dapat berjalan lancar dan selamat. lancar tidaknya akan tergantung kepada pemahaman pengemudi dan kemauan mematuhi rambu tersebut. Berikut arti dari dua jenis rambu tersebut:

  1. Rambu Beri Jalan/Kesempatan (Give Way) artinya dilarang jalan terus apabila mengakibatkan rintangan, hambatan, gangguan bagi lalu lintas dari arah lain yang wajib didahulukan. Pada rambu ini pengemudi diwajibkan memperlambat laju kendaraannya untuk memberikan kesempatan/prioritas kepada kendaraan lain yang akan melintas dan dapat meneruskan perjalanannya apabila kondisi lalu lintas aman.
  2. Rambu Berhenti (STOP) artinya setiap kendaraan yang melewati rambu wajib berhenti sesaat dan dapat meneruskan perjalanan kembali setelah memastikan aman dari lalu lintas arah lainnya. Pengemudi dari jalan minor wajib berhenti untuk memberikan kesempatan/prioritas kepada kendaraan lain yang akan melintas dari jalan utama.

Apa yang dimaksud dengan Hak Utama di jalan raya? Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, Hak utama adalah hak untuk didahulukan sewaktu menggunakan jalan.

Pada persimpangan yang memiliki alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau traffic light kita bisa mengetahui cabang persimpangan mana yang mendapat prioritas/hak utama untuk melintas berdasarkan lampu yang menyala. Namun hal ini pun kadang diabaikan (terutama oleh pengendara motor) atau bahkan mungkin kita belum memahaminya.

Pengendara Motor di Persimpangan
Pengendara Motor di Persimpangan (koq buru-buru amat bro…)

Berikut ini beberapa hak utama di jalan raya yang perlu kita ketahui menurut UU no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan:

A. HAK UTAMA PADA PERSIMPANGAN

1. Persimpangan tanpa lampu lalu lintas

Pada persimpangan sebidang yang tidak dikendalikan dengan lampu lalu lintas, pengemudi wajib memberikan hak utama kepada :

  1. Kendaraan yang datang dari arah depan dan atau dari arah cabang persimpangan yang lain jika hal itu dinyatakan dengan rambu lalu lintas atau marka jalan;
  2. Kendaraan dari jalan utama apabila pengemudi tersebut datang dari cabang persimpangan yang lebih kecil atau dari pekarangan yang berbatasan dengan jalan;
  3. Kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan sebelah kirinya apabila cabang persimpangan 4 (empat) atau lebih dan sama besar;
  4. Kendaraan yang datang dari arah cabang sebelah kirinya di persimpangan 3 (tiga) yang tidak tegak lurus;
  5. Kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan 3 (tiga) tegak lurus.

    Contoh Persimpangan dengan Prioritas
    Contoh Persimpangan dengan Rambu Prioritas

2. Bundaran lalu lintas

Apabila persimpangan dilengkapi dengan alat pengendali lalu lintas yang berbentuk bundaran lalu lintas, Pengemudi harus memberikan hak utama kepada Kendaraan lain yang datang dari arah kanan seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini:

Pergerakan lalu lintas di bundaran lalu lintas
Pergerakan lalu lintas di bundaran lalu lintas

B. HAK UTAMA PERLINTASAN SEBIDANG

Pada persilangan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan, pengemudi wajib:

  1. berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain.
  2. mendahulukan kereta api.
  3. memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel.
Perlintasan sebidang (Sumber: Wikimedia.org)
Perlintasan sebidang
(Sumber: Wikipedia.org)

Pemakai jalan wajib mendahulukan sesuai urutan prioritas bagi kendaraan sebagai berikut:

  1. kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas.
  2. ambulans mengangkut orang sakit.
  3. kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.
  4. kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara.
  5. iring-iringan pengantaran jenazah.
  6. konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat.
  7. kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.

Sering kali terjadi kemacetan gara-gara ada persimpangan yang tidak diatur oleh alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau pertemuan dengan jalan yang lebih kecil. Jika kita memahami aturan hak utama (prioritas) pada persimpangan tanpa lampu lalu lintas di atas, hal ini seharusnya tidak perlu terjadi. Pada persimpangan yang sudah diatur alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau traffic light saja sering macet apalagi ini ya….

Semua ingin cepat
Semua ingin cepat, jadinya malah lambat

Melihat makin egoisnya kita di jalan raya saat ini, menurut penulis mungkin kita perlu mempertimbangkan prinsip hak utama (prioritas) dengan memberi hak kepada pengemudi yang berasal dari jalan yang lebih kecil/sulit. Mungkin ini sulit diterapkan bagi pengemudi yang egois/biasa menang sendiri. Jika kita berprinsip hak utama (prioritas) maka kita semua paling gampang mengklaim memiliki hak utama (prioritas). Sehingga pengemudi yang memiliki hak lebih lemah akan sulit lewat. Penulis hanya mencoba memandang dari sisi kepribadian orang timur yang kita banggakan dan etika yang kita miliki.

Prinsip hak utama yang sekarang sebenarnya sudah bagus, kalau kita sama-sama memahaminya. Selaku orang timur yang dikenal memiliki sopan santun, berbudi luhur, toleran dan tenggang rasa, maka sifat ini semestinya bisa kita gunakan dalam berlalu lintas. Mari kita tumbuhkan dan wujudkan rasa toleran dan tenggang rasa tersebut di jalan raya. Kalau kita menyatakan hak utama atau prioritas tentu lebih gampang mengklaimnya daripada bersedia mengalah/toleran memberikan kesempatan lewat kepada pengemudi lain. Suatu prinsip akan berjalan baik jika semua pihak memahami dan menyepakati prinsip tersebut.

Sebagai contoh: Ada pengemudi A yang akan masuk/keluar jalan lebih kecil dari/menuju jalan yang lebih besar. Maka pengemudi A harus memberikan hak utama (prioritas) bagi pengemudi yang berasal dari jalan yang lebih besar. Jika lalu lintas ramai/padat maka pengemudi A harus menunggu hingga lalu lintas sepi dan aman baru bisa lewat. Jika pengemudi A tidak mendapat kesempatan (memaksa masuk/keluar) maka ada kemungkinan akan macet/stagnan karena pengemudi dari jalan utama tidak mau mengalah ditambah lagi pengemudi lain yang memotong antrian dari dua arah.

Contoh lain adalah di jalanan menanjak. Di gedung parkir mall sering kita lihat rambu peringatan untuk memberikan jalan bagi kendaraan yang akan naik. Mengapa seperti ini? Hal ini karena kendaraan yang akan turun lebih mudah dan aman untuk berhenti dibandingkan kendaraan yang naik. Apabila kendaraan yang akan naik yang berhenti maka akan lebih sulit menahan kendaraan untuk berhenti dan juga membahayakan kendaraan tersebut karena kendaraan dapat mundur di tanjakan. Sehingga prinsip memberi jalan/mengalah lebih pas untuk diterapkan. Yang sulit itu menumbuhkan rasa mau mengalah (toleransi/tenggang rasa) dibandingkan memupuk ego untuk menang sendiri….

Berikut video tata cara berlalu lintas di persimpangan tanpa APILL dan bundaran (sumber: Youtube by Vicroads):

Catatan: Video di atas untuk wilayah Victoria, Australia.

Jika kita sedikit mau mengalah (memberi jalan), maka lalu lintas yang menuju/dari jalan yang lebih kecil akan dapat lewat. Kita berhenti memberi jalan (mengalah) hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk melewatkan beberapa kendaraan yang menuju/dari jalan yang lebih kecil. Bagi kendaraan lain yang berasal dari jalan yang lebih kecil juga harus tahu diri jika sudah ada beberapa kendaraan di depannya yang sudah diberikan jalan. Kita hanya terhambat beberapa detik saja dan lalu lintas tetap lancar. Dibandingkan jika kita sama-sama ngotot mau lewat, maka yang terjadi kita bisa berhenti lebih lama dan lalu lintas bisa macet. Itu menurut saya ya, dan saya sudah melakukan hal ini. Menurut saya yang membuat berat menerapkannya adalah tidak semua orang mau mengalah dan memberi jalan.

Kita merasa lebih kuat dan punya hak utama (prioritas) di jalan utama. Hal ini menurut saya membuat kita semakin arogan, tidak mau mengalah/memberi jalan bahkan tidak jarang menghardik orang lain yang memaksa lewat. Rasanya kita akan lebih bermartabat jika kita mau memberikan jalan kepada pengemudi lain daripada menyerobot hak pengemudi lain. Memberi lebih mulia daripada menyerobot….

Demikian sekedar sumbang saran yang sumbang. Silahkan berbagi jika teman-teman memiliki pemikiran atau ingin menambahkan pendapatnya. Keep driving safely dan semoga selamat sampai di tujuan……

2 thoughts on “MEMBERI JALAN [vs HAK UTAMA] DI JALAN RAYA

    Dungan said:
    19 September 2016 at 3:44 PM

    1.semrawutnya lalu lintas salah satunya karena motor tidak dibuatkan jalur sendiri..
    2.jalur busway dibangun dengan investasi uang juga..tapi utilitasnya rendah (tidak efektif dipakai).
    Sebaiknya dibuat aturan boleh dilewatin mobil yang akhiran plat nomernya sama dengan akhiran tanggal.
    Contoh B1234 boleh masuk jalur busway di tanggal 4, 14, dan 24.
    3. Lokasi exit tol membuat penumpukan mobil di tol. Contoh: dari arah Tomang, kalau mobil keluar di Kuningan..harus di exit Semanggi kena macet..kenapa tidak bikin exit Tol baru kuningan setelah intake tol Semanggi 2 ?
    4. Separator busway setelah exit Tol sepanjang 100-150 meter sebaiknya ditiadakan..sehingga tidak macet di luar tol dan di dalam tol..toh macet juga busway jadi ikut macet…

      bsm@iwftc responded:
      21 September 2016 at 10:37 AM

      Tks sdh mampir di blog ini. Pendapatnya boleh juga, utk yg no 2 perlu petugas pengawas agar efektif. Tujuan adanya jalur khusus busway yg ada saat ini blm menunjukkan hasil maks.
      Banyak faktor yg menyebabkan semrawutnya jalanan perkotaan. Diantaranya perilaku berkendara di jalan, keterbatasan ruang jalan, angkutan umum yg belum memadai, banyaknya penggunaan kend pribadi,rekayasa lalin yang kurang tepat dll. Jk kita masih mengandalkan kend pribadi mk kapasitas jalan perkotaan sulit menampung vol kend yg ada. Terima kasih.

Silahkan tinggalkan komentar anda. No SARA dan Iklan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s