Angkutan Jalan Raya

Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT)

Pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, sementara panjang dan lebar jalan yang nyaris tidak berubah, membuat kota semakin kesulitan mengakomodir pertumbuhan tersebut. Penanganan terhadap moda angkutan umum merupakan bagian terpenting dari upaya mengatasi permasalahan lalu lintas. Konsep Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) yang merupakan bagian dari Manajemen lalu Lintas diharapkan dapat menggantikan pendekatan konvensional dalam memecahkan masalah transportasi perkotaan.

Parkir Motor di Beijing, China

Tujuan Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) adalah mengoptimalkan penggunaan seluruh jaringan jalan, guna peningkatan keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas.

Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) adalah usaha untuk memperkecil atau meredam kebutuhan transportasi sehingga pergerakan yang ditimbulkannya masih berada dalam syarat batas kondisi sosial, lingkungan, dan operasional.

– Hubungan antara prasarana transportasi dan kebutuhan transportasi

Adanya tata guna lahan yang berbeda akan menyebabkan bangkitan dan tarikan dalam suatu wilayah. Bangkitan dan tarikan yang ditimbulkan membutuhkan prasarana transportasi dalam rangka mengakomodir kebutuhan transportasi yang muncul.

– Paradigma manajemen kebutuhan transportasi (MKT)

Mengingat keterbatasan lingkungan (seperti : ketersediaan lahan, dana dan SDM) maka paradigma “PREDICT AND PROVIDE” tidak dapat lagi diterapkan dimana pertambahan panjang jalan (prasarana) tidak dapat mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan (permintaan transportasi) yang mencapai 5%. Ditambah lagi munculnya induce traffic akibat makin baiknya prasarana yang tersedia menyebabkan pertambahan panjang jalan (prasarana) tidak memberikan dampak yang signifikan. Untuk itu saat ini perlu diubah paradigma “PREDICT AND PROVIDE” menjadi “PREDICT AND PREVENT” melalui manajemen kebutuhan transportasi (MKT) yang berupaya menekan laju pertumbuhan permintaan transportasi dan mengoptimalkan prasarana jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal akibat kegiatan informal yang memanfaatkan badan jalan dan trotoar (seperti : on-street parking, PKL dan lain-lain).

Salah satu Ruas Jalan di Beijing, China

Teknik manajemen kebutuhan transportasi (MKT)

–   Pergeseran moda

Kebijakan yang menghasilkan dampak pergeseran moda dibutuhkan agar proses pergerakan masih dapat dilakukan pada lokasi dan waktu yang sarna tetapi dengan moda transportasi yang berbeda. Pada prinsipnya, kebijakan ini didukung oleh kenyataan bahwa terdapat adanya ketidakefisienan dalam penggunaan ruang jalan yang memang sudah sangat terbatas. Untuk meningkatkan efisiensi ruang jalan tersebut (tanpa bermaksud mengurangi atau membatasi jumlah pergerakan yang ada), dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah kendaraan yang bergerak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merangsang pergerakan agar menggunakan kendaraan yang berokupansi lebih besar seperti penggunaan angkutan umum.

Bus Besar

Jumlah pergerakan yang terjadi tetap (tidak berubah), akan tetapi, diharapkan terjadi pergeseran persentase jumlah pergerakan dari yang menggunakan kendaraan berokupansi kecil ke kendaraan berokupansi lebih besar sehingga jumlah kendaraan yang bergerak menjadi lebih sedikit, sedangkan jumlah pergerakan tetap atau malah bertambah. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung kebijakan ini adalah:

  1. Car/Van pooling. Strategi ini akan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang bergerak dengan cara meningkatkan-okupansi kendaraan pribadi. Kebijakan bus karyawan atau kendaraaan antar-jemput untuk anak sekolah dan karyawan merupakan salah satu perwujudan strategi car poolIng. Seperti contoh, konsep three-in-one yang sudah cukup lama diterapkan di DKI-Jakarta juga mempunyai dampak yang sama selain dari dampak pergeseran waktu dan pergeseran lokasi. Kebijakan peningkatan pelayanan angkutan urnurn melalui kombinasi strategi prioritas bus, kebijakan parkir, batasan lalulintas, sistem angkutan umum massa (SAUM), dan fasilitas pejalan kaki merupakan usaha-usaha yang mengarah pada terjadinya dampak pergeseran moda. Tujuan strategi prioritas bus adalah untuk mengurangi waktu perjalanan, dan membuat bus lebih menarik untuk penumpang.
  2. Jalur khusus bus Jika suatu ruas jalan mengalami kemacetan, bus dapat menggunakan satu jalur sendiri. Dengan demikian, bus tersebut bergerak lebih cepat karena kemacetan telah dipindahkan dari jalur tersebut. Kerugiannya, kendaraan pribadi yang mengalami kemacetan semakin dibatasi pergerakannya ke ruang yang lebih keciI sehingga semakin meningkatkan kemacetan. Akibatnya, angkutan umum (bus) menjadi lebih menarik. Untuk itu, perlu dikaji secara mendalam tentang keseimbangan antara keuntungan akibat meningkatnya kecepatan bus dan biaya akibat meningkatnya tundaan. Dengan alasan ini, jalur khusus bus digunakan hanya pada saat macet, yaitu pada saat keuntungan bisa didapat dengan meningkatnya kecepatan kendaraan umum (pada saat jam sibuk pagi dan sore hari).
  3. Prioritas bus pada persirnpangan berlampu lalulintas Detektor biasanya diletakkan pada bus, yang akan memberikan sinyal elektronik yang akan diterima oleh penerima sinyal pada persimpangan tersebut. Selanjutnya, sinyal tersebut akan diteruskan ke pusat kontrul, yang kemudian akan memberikan fase hijau atau memperpanjang waktu hijau. Hal ini tentunya mengurangi tundaan bus di persimpangan. Karena sistem tersebut juga akan mengganggu waktu siklus yang ada, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kemacetan tidak akan meningkat pesat untuk kendaraan lain.
  4. Kemudahan pejalan kaki. Untuk merangsang masyarakat menggunakan angkutan umum, hal utama yang perlu diperhatikan adalah pejalan kaki. Perjalanan dengan angkutan umum hampir pasti selalu diawali dan diakhiri dengan berjalan kaki. Sehingga, jika fasilitas pejalan kaki tidak disediakan dengan baik, masyarakat akan berkurang minatnya menggunakan angkutan umum. Hal yang perlu diperhatikan adalah masalah fasilitas, kenyamanan, dan keselamatan, serta perlu selalu diingat bahwa ‘pejalan kaki bukanlah warga negara kelas dua’.
  5. Pergeseran moda transportasi ke telekomunikasi Strategi ini perlu diperhatikan karena proses pemenuhan kebutuhan tidak selalu harus dipenuhi dengan proses pergerakan. Kebutuhan yang bersifat informasi dan jasa dapat dipenuhi dengan menggunakan telekomunikasi, penggunaan fasilitas telepon, e-mail, faksimili, dan internet akan sangat membantu mengurangi jumlah pergerakan karena proses pemenuhan kebutuhan yang bersifat informasi dapat dilakukan tanpa seseorang harus bergerak menggunakan moda angkutan.
Bus Bertingkat di Beijing, China

–   Pergeseran waktu perjalanan

Kebijakan transportasi yang menghasilkan dampak pergeseran waktu dibutuhkan agar proses pergerakan masih dapat dilakukan pada lokasi yang sarna tetapi tidak pada waktu yang bersamaan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung kebijakan ini adalah:

  1. Strategi jam masuk/keluar kantor atau sekolah yang berbeda-beda. Usaha untuk menghindari terjadinya jam puncak dapat juga dilakukan dengan melakukan pergerakan lebih awal sebelum jam sibuk atau sebaliknya menunda pergerakan setelah jam sibuk.
  2. Batasan waktu pergerakan untuk angkutan barang .
  3. Beberapa strategi lainnya yang dapat dilakukan dapat berupa: hari kerja yang dipadatkan (6-hari kerja menjadi S-hari kerja), jadwal kerja fleksibel, three-in-one, kebijakan hari kerja tanpa angkutan pribadi, dan lain-lain.

–   Pergeseran rute perjalanan

Kebijakan yang menghasilkan dampak pergeseran rute atau lokasi dibutuhkan agar proses pergerakan masih dapat dilakukan pada waktu yang sama, akan tetapi pada rute atau lokasi yang berbeda. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung kebijakan ini adalah:

  1. Kebijakan road pricing seperti sistem stiker, Electronic Road Pricing (ERP), Area licensing Scheme (ALS) .
  2. Strategi lainnya dapat berupa: penetapan rute angkutan barang, three-in-one, penetapan ruas jalan khusus untuk angkutan umum, dan lain-lain.

–   Perubahan lokasi tujuan perjalanan

Kebijakan yang menghasilkan dampak pergeseran lokasi tujuan dibutuhkan agar proses pergerakan masih dapat dilakukan pada lokasi, waktu, dan moda transportasi yang sarna tetapi dengan lokasi tujuan yang berbeda. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung kebijakan ini adalah:

  1. Upaya mengarahkan pembangunan tata guna lahan sedemikian rupa sehingga pergerakan yang dibangkitkan atau yang tertarik terjadi hanya pada satu lokasi atau beberapa lokasi yang saling berdekatan saja. Semakin jauh kita bergerak dan semakin lama kita menggunakan jaringan jalan, maka semakin besar kontribusi kita dalam proses terjadinya kemacetan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan mengupayakan pembangunan pusat-pusat kegiatan yang terpadu dengan berbagai jenis dan macam kegiatan sehingga penduduk untuk pergi bekerja, belanja, sekolah, dan lain-lain cukup hanya pada satu lokasi yang berdekatan saja.
  2. Penyebaran secara lebih merata lokasi pusat kegiatan utama (sentra-sentra primer) dan rayonisasi sekolah di daerah perkotaan juga akan sangat mendukung kebijakan pergeseran lokasi. Pusat-pusat kegiatan dapat dibangun di pinggiran kota sehingga seseorang tidak perlu jauh-jauh untuk memenuhi kebutuhannya atau sekolah karena semakin jauh seseorang bergerak, semakin besar kontribusinya terhadap terjadinya kemacetan.

Silahkan tinggalkan komentar anda. No SARA dan Iklan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s