My Father – III

THE LAST 18 DAYS WITH MY FATHER

Hari ke 9: Minggu, 30 Maret 2014

Agenda hari ini kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Masjid Qiblatain, Masjid yang memiliki 2 arah kiblat. Seperti diketahui kota Madinah memiliki beberapa tempat sejarah yang perlu dikunjungi. Selain Masjid Nabawi dan Masjid Quba, juga ada masjid yang memiliki sejarah penting dalam pelaksanaan shalat yaitu Masjid Qiblatain.

Masjid Qiblatain
Masjid Qiblatain

Masjid ini terletak tidak jauh dari kota Madinah berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjib Nabawi. Masjid ini awalnya bernama Masjid Bani Salamah karena dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Kiblat shalat semua nabi dahulu kala adalah Baitullah di Makkah. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, kiblat ditetapkan menghadap Masjidil Aqsha yang ada di Palestina dengan mengarah ke utara, arah yang sama yang dipakai oleh kaum Nasrani dan Yahudi. Karenanya mereka memperolok-olok agama Islam sebagai agama yang mengekor agama mereka.

Saat Rasulullah SAW mengimami shalat Zhuhur dengan kiblat menghadap ke Masjid Al Aqsha di Palestina, ketika selesai rakaat kedua turunlah wahyu yang memerintahkan untuk mengubah arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 144. Adanya peristiwa yang sangat bersejarah ini maka nama masjid ini diubah menjadi Qiblatain yang berarti dua kiblat.

Masjid Qiblatain
Masjid Qiblatain

Masjid ini memiliki 4 buah menara yang didominasi warna putih dan kombinasi warna batu alam di dinding bagian bawahnya. Lingkungan sekitar masjid disediakan areal parkir bus, pedagang buah-buahan menggunakan mobil pick up, lapak pedagang kaki lima dan toko-toko yang menjual oleh-oleh.

Lapak Pedagang Kaki Lima di Parkiran Masjid Qiblatain
Lapak Pedagang Kaki Lima di Parkiran Masjid Qiblatain

Selesai mengunjungi Masjid Qiblatain kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kurma di yang terletak pinggiran kota Madinah. Perjalanan ditempuh sekitar 15 menit. Sayangnya ketika kami berkunjung pohon kurma sedang tidak berbuah. Di sini ada toko yang menjual berbagai jenis kurma dan makanan olahan lainnya. Di sini pengunjung disuguhi minuman teh panas gratis sembari duduk-duduk di bawah pohon kurma. Selintas kalau kuperhatikan pohon kurma ini sangat mirip dengan pohon kelapa sawit yang banyak ditanam di perkebunan sawit di Sumatera Selatan, termasuk di halaman kantorku.

Minum Teh di Kebun Kurma
Minum Teh di Kebun Kurma

Selesai mengunjungi kebun kurma kami melanjutkan perjalanan menuju Jabal Magnet. Jabal Magnet adalah daerah dimana terdapat gunung dengan ketinggian sekitar 350 meter dan mobil dapat melaju dengan kecepatan 120 km/jam tanpa harus menginjak pedal gas pada jalan yang terlihat menanjak.

Dalam perjalanan menuju Jabal Magnet kami melintasi Bukit Uhud. Bukit dimana terjadi peperangan antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy. Dalam peperangan ini kaum Muslimin dalam posisi yang kuat dan hampir mengalahkan kaum kafir Quraisy. Melihat pasukan musuh meninggalkan medan pertempuran, pasukan pemanah yang ada di atas bukit turun untuk mengambil rampasan perang. Akibat keserakahan pasukan ini, maka musuh berbalik arah menyerang dengan menguasai bukit Uhud yang strategis tempat pasukan pemanah ditempatkan. Setelah pos pemanah di bukit direbut oleh kafirin maka pasukan Islam yang tersisa di sana terbunuh termasuk Hamzah paman Nabi.

Jabal Uhud
Jabal Uhud

Daerah Jabal Magnet merupakan sebutan yang biasa digunakan orang Indonesia. Orang Arab lebih mengenal daerah ini sebagai Manthiqatul Baidha (Tanah Putih). Jalanan menuju Jabal Magnet di kiri kanan jalan dipenuhi pemandangan gurun pasir gersang dan bukit bebatuan yang terlihat berwarna kemerah-merahan. Di kiri kanan jalan banyak terdapat pohon-pohon zaqqum yang kering kerontang. Konon pohon zaqqum yang berduri ini adalah makanan manusia waktu di neraka nanti. Sebelum tiba di Jabal Magnet, bus berhenti sejenak tepi di jalanan yang sedikit menanjak ke arah Jabal Magnet. Aku melihat beberapa orang menuangkan air mineral ke aspal jalanan yang terlihat seperti turunan (???) namun airnya bergerak mengalir ke arah tanjakan. Selanjutnya sang sopir bus yang berasal dari Indonesia membuktikan fenomena (???) yang ada di sini. Bus yang kami naiki dalam posisi mesin nyala dan gigi netral bergerak perlahan-lahan mundur seperti ada yang menarik dari belakang menuju tanjakan.

Jabal Magnet
Jabal Magnet

Tiba di ujung jalan yang berupa bundaran putar balik, bis kami berhenti untuk memberikan kesempatan berfoto dengan latar belakang bukit yang katanya Jabal Magnet. Kami berfoto sejenak. Ternyata di ujung jalan yang sepi ini ada seorang penjual es krim keliling dengan menggunakan mobil. Beberapa anggota rombongan membeli es krim tersebut.

Jabal Magnet
Jabal Magnet

Selesai berfoto selanjutnya bus bersiap-siap untuk perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang meninggalkan Jabal Magnet, pak sopir kembali menunjukan fenomena (???) Jabal Magnet. Kali ini bus dengan mesin menyala dan tanpa diinjak pedal gas bergerak perlahan hingga akhirnya mencapai kecepatan 140 km/jam. Kalau tidak direm mungkin bisa lebih cepat lagi. Fenomena ini sempat saya abadikan dalam bentuk video. Saya jadi bingung, kalau bukit yang disebut Jabal Magnet di belakang kami, seharusnya kecepatan bus justru berkurang, koq ini malah sebaliknya. Waktu berangkat air mengalir ke jalan yang menanjak dan bus bergerak mundur.

Logikanya air akan mengalir secara gravitasi menuju tempat yang lebih rendah. Menurutku tempat tersebut sebenarnya turunan namun terlihat seperti menanjak (tanjakan). Mungkin kita akan membahasnya lagi dalam tulisan tersendiri.

Sepulangnya dari perjalanan hari ini dapat kusimpulkan bahwa wilayah Madinah memiliki beberapa perbedaan dengan Mekkah. Di wilayah Madinah suasana kotanya lebih tertib dan lebih subur dibandingkan wilayah Mekkah yang tandus dan berbukit-bukit. Terbayang suasana Madinah yang bersahabat menerima Rasulullah dan rombongan saat hijrah dulu untuk menghindari penindasan umat muslim oleh kaum kafir Quraisy. Hijrah yang menyelamatkan ajaran Islam sehingga dapat tersebar hingga saat ini.

Di depan Raudah
Di depan Raudah

Kegiatan hari ini diakhiri dengan makan siang di hotel. Selesai makan siang dilanjutkan dengan shalat Zhuhur dan menunaikan shalat Ashar di Masjid Nabawi sebelum akhirnya kami beristirahat di hotel. Menjelang Maghrib kami menuju masjid kembali untuk menunaikan shalat maghrib dan Isya. Selesai shalat Isya kami pulang ke hotel untuk makan malam.

Makam Nabi Muhammad
Makam Nabi Muhammad
Makam Nabi Muhammad
Makam Nabi Muhammad
Menjelang Senja di Masjid Nabawi
Menjelang Senja di Masjid Nabawi

Karena kesulitan menuju ruang makan di lantai 2 dengan lift yang selalu penuh dan banyak jamaah yang tidak mau mengalah memberikan prioritas pada pemakai kursi roda, maka setiap makan, kursi roda kami simpan di bawah tangga menuju lantai 2. Di sana juga ada beberapa kursi roda lain. Untuk antisipasi kehilangan dan tertukar, sebelumnya pada kursi roda kami sudah ditempeli sticker biro perjalanan umroh kami, dipasang name tag GFF serta kami selipkan sajadah. Artinya kecil kemungkinan ada orang yang salah mengambil kursi roda dengan adanya tanda-tanda tadi.

Menunggu Waktu Shalat
Menunggu Waktu Shalat
Menunggu Waktu Shalat
Menunggu Waktu Shalat

Selesai makan malam kami bermaksud kembali ke kamar untuk beristirahat. Kami tidak mendapatkan kursi roda kami di bawah tangga. Tampaknya ada jamaah yang sengaja memakai (mengambil ???) kursi roda kami. Setelah melapor ke resepsionis dan petugas hotel yang mengurusi rombongan Indonesia tidak ada hasil, maka kuputuskan untuk mencari sendiri.

Kutelusuri setiap lorong yang ada di setiap lantai hotel yang terdiri dari 16 lantai. Dari basement hingga lantai 16 kutelusuri dengan melewati tangga agar lebih cepat. Biasanya kursi roda akan diletakkan di depan kamar jamaah. Aku bertanya kepada petugas/room boy yang ada di setiap lantai apakah di lantai ini ada jamaah yang menggunakan kursi roda. Petugas/room boy di lantai kami (lantai 6) mengatakan kemungkinan yang mengambil adalah jamaah asal Iran. Dia berjanji akan membantu mencari selepas pergantian shift pukul 00.00 dini hari. Kuberitahukan kepadanya ciri-ciri kursi roda kami.

Setelah sekitar 1 jam mencari dan meninggalkan ayah sendirian di kamar (obat-obatan dan air minum sudah disiapkan untuk berjaga-jaga jika- tiba-tiban kambuh) hasil pencarianku adalah NIHIL alias tidak ketemu. Walaupun sempat marah dan kesal karena kehilangan kursi roda akhirnya aku mengambil hikmahnya. Aku kembali ke kamar dan menyampaikan kepada ayah bahwa kursi roda kita hilang berarti ada orang yang lebih membutuhkannya. Mudah-mudahan Allah mengganti kursi roda itu dengan kesembuhan pada ayah. Setelah putus asa dan pasrah kehilangan kursi roda ternyata Allah masih berkehendak kursi roda tersebut kembali kepada kami. Sekitar pukul 00.30 orang Pakistan yang bertugas di lantai 6 tempat kamar kami mengetuk kamar dan menyampaikan apakah ini kursi roda yang kami cari. Alhamdulillah kursi roda ayah akhirnya kembali lagi.

Hari ke 10: Senin, 31 Maret 2014

Menjelang pukul 13.30 kami meninggalkan Dar Alnaeem Hotel di Madinah menuju Jeddah. Jarak tempuh sekitar 500 km kami tempuh dalam waktu sekitar 7 jam. Menjelang maghrib kami berhenti di suatu desa 2 jam sebelum Jeddah untuk menunaikan shalat maghrib. Selesai berwudlu ayah kena serangan jantung untuk kelima kalinya. Dengan obat dan cara yang sama akhirnya ayah dapat kembali sehat walaupun masih terlihat lemah. Aku sangat ingin segera tiba di hotel agar ayah dapat segera beristirahat.

Corniche Commercial Center Jeddah
Corniche Commercial Center Jeddah

Menjelang masuk Jeddah lalu lintas padat merayap. Aku berharap agar dapat segera tiba di hotel, ternyata bus mengarah ke Corniche Commercial Center. Ternyata setelah menempuh perjalanan panjang dan menjelang larut malam (pukul 21.30) tidak mengurangi semangat rombongan kami untuk berbelanja. Corniche Commercial Center biasa disebut juga dengan Al Ballad adalah salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Jeddah yang ramai dikunjungi rombongan jamaah asal Indonesia. Melihat kondisi ayah yang kelelahan, aku lebih memilih untuk menunggu di bus bersama beberapa orang jamaah lainnya sambil menikmati makan malam yang disediakan. Menjelang pukul 23.00 kami akhirnya tiba di Golden Tulip Hotel.

Hari ke 11: Selasa, 1 April 2014

Seusai shalat subuh kami meninggalkan Golden Tulip Hotel menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Perjalanan menuju bandara sekitar 30 menit. Kembali pelayanan bandara di sini tidak bersahabat. Aku mendatangi meja petugas yang menyediakan kursi roda untuk meminjam kursi roda buat ayah yang menunggu di bus. Petugas menyampaikan tidak ada kursi roda yang dapat dipakai, padahal aku melihat sendiri ada beberapa unit kursi roda di tempat itu.

Jeddah Airport
Jeddah Airport
Kendaraan Khusus Pengguna Kursi Roda
Kendaraan Khusus Pengguna Kursi Roda

Aku berusaha mencari tempat lain yang menyediakan kursi roda, namun tidak ada. Kembali kudatangi petugas tadi dan jawabannya tetap tidak ada kursi roda yang dapat dipakai. Cuek dan seperti tidak mau tau dengan kesulitan penumpang. Akhirnya ada teman satu rombongan yang menawarkan akan mencarikan kursi roda. Alhamdulillah dengan bantuan teman tadi kami mendapatkan kursi roda yang digunakan selama di bandara sebelum boarding.

Emirates Airlaine menuju Jakarta via Dubai
Emirates Airline menuju Jakarta via Dubai

Hari ke 12: Rabu, 2 April 2014

Sekitar pukul 08.00 WIB pesawat Emirates Airline yang membawa kami mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Bandar Lampung dengan Garuda Indonesia penerbangan siang hari.

Setelah menempuh penerbangan panjang Jeddah – Dubai – Jakarta – Bandar Lampung, sekitar pukul 13.30 kami tiba di rumah ayahku. Dengan semangat ayah turun dari taxi masuk ke pekarangan rumah. Ibu dan adikku menyambut kami di depan rumah. Ibu sudah masak masakan kesukaanku dan ayah. Ibu sudah menyediakan masakan sederhana favoritku yaitu sayur terong bulat sambal dan sardines.

Menu Favoritku
Menu Favoritku

 Tips:

  1. Jika beruntung, di hotel tempat menginap kadangkala ada roda bekas jamaah lain yang selesai menunaikan umroh/haji yang ditinggalkan di hotel dan bisa dipakai gratis. Bisa dicoba tanya ke Room Boy hotel. Biasanya kondisinya tidak sempurna lagi namun masih bisa dipakai.
  2. Bisa juga beli kursi roda di Mekkah, namun harganya lebih mahal.
  3. Beri label yang jelas agar kursi roda tidak tertukar karena banyak jemaah yang membawa kursi roda.
  4. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi banyak disediakan air Zam-zam gratis. Jadi tidak perlu beli air minum dalam kemasan. Kalau mau bawa botol kosong dan isi dengan air Zam-zam di masjid pada saat selesai shalat untuk diminum di hotel.
  5. Datang sebelum waktu shalat Jumat tiba agar mendapat tempat di dalam masjidil Haram.
  6. Bawa pakaian harian secukupnya karena bisa cuci kering pakai lagi.

Bersambung ke Bagian IV ………………………….


Silahkan tinggalkan komentar anda. No SARA dan Iklan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s