My Father – IV

THE LAST 18 DAYS WITH MY FATHER

 

Hari ke 13: Kamis, 3 April 2014

Sekitar pukul 02.00 dini hari adikku membangunkan kami bahwa penyakit jantung ayah kambuh. Seperti biasa, kami memberikan tindakan awal seperti yang sudah-sudah. Namun kondisi ayah tidak membaik kali ini. Dini hari kami bawa ayah ke UGD RS Abdul Moeloek dan diberikan tindakan awal. Dokter menyatakan ayah harus dirawat inap. Pukul 07.00 pagi kami mendapat kamar dan ayah dipindahkan ke kamar perawatan. Pukul 15.00 kondisi ayah memburuk, ibu dan adikku menangis di samping ayah. Ayah tidak sadarkan diri, tidak merespon keberadaan kami. Ya Allah, berikanlah kesembuhan kepada ayahku sehingga kami dapat berkumpul lebih lama lagi… inilah doaku selama ini.

Menunggu Waktu Shalat
Menunggu Waktu Shalat di Masjid Nabawi

Menjelang maghrib kondisi ayah membaik, kami sedikit lega. Di Masjid dekat ayah dirawat, seusai shalat aku memohon kepada Allah agar ayah masih diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik sehingga kami masih diberikan kesempatan untuk berkumpul lebih lama. Terutama memberikan kesempatan kepada ayah melihat anak bungsunya yang akan diwisuda bulan September nanti dan aku menjanjikan kepada ayah untuk pulang kampung sekeluarga ke kampung halaman ayah. Kampung halaman yang sudah belasan tahun tidak dilihat sejak tahun 2001. Malam itu kondisi ayah masih lemah.

Hari ke 14: Jumat, 4 April 2014

Hari-hari berikutnya aku menyadari bahwa doa merupakan perwujudan permintaan kepada Tuhan. Aku memahami bahwa kondisi ayah yang harus selalu minum obat untuk menjaga agar penyakit-penyakitnya tidak kambuh mungkin juga memberatkan ayah. Aku berpikir apakah doaku ini yang menyebabkan ayah masih bertahan bersama kami selama ini sementara di sisi lain ayah harus menderita menghadapi penyakitnya. Aku sudah diberikan tuhan kesempatan menunaikan janjiku membawa ayah umroh. Ya Allah, aku sungguh egois jika keinginanku ini yang membuat ayah harus bertahan selama ini….

Di Rumah Sakit
Di Rumah Sakit

Doakupun kutambahkan, jika memang Allah akan mengambilnya, ambilah dengan cara yang sebaik-baiknya. Ambilah dengan cara yang tidak menyiksanya. Jika engkau masih memberikan kesempatan dia bersama kami, sembuhkanlah. Aku merelakan ayah jika memang harus menghadap Illahi, walaupun keinginan hatiku sebenarnya bertolak belakang dengan doa itu. Aku harus mampu merelakannya…

Siangnya ayah bercerita bahwa pada hari pertama dirawat ayah seperti melihat banyak orang berbaju putih mendatanginya. Ayah tidak mau ikut bersama mereka. Di hari kedua ayah tidak mau makan makanan yang disediakan rumah sakit. Ayah ikut makan nasi bungkus bersama kami. Senang sekali melihat ayah lahap menyantap nasi bungkus itu. Ada harapan ayah akan sehat kembali.

Di Rumah Sakit
Di Rumah Sakit

Isteriku mengabarkan akan menengok ayah di Lampung. Adik bungsuku yang kuliah di Palembang pun ikut serta. Mereka berangkat jumat malam dari Palembang.

Hari ke 15: Sabtu, 5 April 2014

Seusai menunaikan shalat subuh di masjid, aku menunggu istriku tiba di rumah sakit. Tidak lama kemudian mereka tiba di RS. Kami segera menemui ayah. Ayah sangat senang melihat anak bungsunya dan cucu-cucunya tiba. Hari ketiga di RS, Ayah sudah semakin membaik dan meminta dapat segera pulang. Dokter menyampaikan besok dapat pulang jika hasil pemeriksaan hari ini semakin baik. Ayah tersenyum gembira hari ini.

Di Rumah Sakit
Di Rumah Sakit

Hari ke 16: Minggu, 6 April 2014

Setelah menyelesaikan administrasi dan biaya rumah sakit, menjelang tengah hari akhirnya ayah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Betapa senangnya kami dapat berkumpul kembali di rumah. Rupanya Allah masih memberikan kesempatan bertemu dengan kami dan adikku yang sejak tiga tahun terakhir meninggalkan ayah dan ibu di Lampung untuk menuntut ilmu di Palembang.

Hari ke 17: Senin, 7 April 2014

Di rumah suasana kembali ceria seiring kesembuhan dan kepulangan ayah dari rumah sakit. Ayah kembali mengingatkan aku agar adikku menjadi abdi negara setelah lulus nanti. Saat kami menunaikan umroh di Mekkah dan Madinah ayah berulang kali menyampaikan keinginannya itu. Aku berjanji akan berjuang mewujudkan keinginannya sekuat tenagaku. Insya Allah restu ayah dan ibu serta takdir yang digariskan Allah akan memudahkan jalanku mewujudkan keinginan terakhir ayah. Seharian ayah di rumah kondisinya baik-baik saja.

Hari ke 18: Selasa, 8 April 2014

Setelah memastikan kondisi ayah baik-baik saja sejak pulang ke rumah, sekitar pukul 12.00 siang aku, istri, anak-anakku dan adik bungsuku berpamitan untuk pulang ke Palembang. Seharusnya hari senin kemarin aku sudah masuk kerja karena masa cutiku sudah habis dan adik bungsuku harus masuk kuliah. Sekitar pukul 21.00 akhirnya kami tiba di rumah di Palembang.

Rabu, 9 April 2014

Bangun pagi sekitar pukul 07.00 WIB aku menelpon adik untuk memastikan kondisi ayah. Adikku menyampaikan bahwa ayah baik-baik saja. Pukul 09.00 telponku berdering, adikku di Lampung mengabarkan bahwa ayah kembali kena serangan jantung. Aku merahasiakan kabar ini dari adik bungsuku. Aku menyarankan jika kondisi ayah tidak membaik segera dibawa ke rumah sakit. Kami sekeluarga masih menyempatkan mengikuti Pemilihan Calon Legislatif di TPS dekat rumah.

Selesai memilih rencananya kami akan mengantarkan adik ke asramanya untuk mengikuti perkuliahan besok, namun dengan adanya kabar tadi maka niat itu kutunda sementara menunggu kabar perkembangan kondisi ayah. Jika sudah masuk asrama berarti aku harus mengajukan ijin lagi jika adikku akan kubawa ke Lampung jika terjadi sesuatu dengan ayah.

Pukul 11.00 WIB aku menghubungi adikku di Lampung untuk menanyakan kabar ayah, terdengar suara tangis ibu dan keponakanku. Sambil menangis adikku mengabarkan kondisi ayah makin memburuk dan dibawa ke rumah sakit. Aku bisa merasakan sesuatu yang buruk sepertinya hari akan terjadi. Sesuatu yang kutakutkan selama ini akan terjadi. Aku menyampaikan kepada keluarga di Lampung untuk mengikhlaskan kepergian ayah jika memang sudah tiba waktunya. Aku menyampaikan kepada istri untuk berkemas-kemas untuk berangkat ke Lampung. Kami menunggu kabar terakhir kondisi ayahku.

Kabar duka itupun akhirnya kuterima sekitar pukul 13.00 WIB. Ayah meninggal ??? Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun… Ayahanda telah berpulang ke sang pencipta di rumah sakit. Rabu, 9 April 2014 Ayahanda wafat.

Ucapan Duka Cita
Ucapan Duka Cita

Kami segera berangkat ke Lampung. Pukul 20.00 WIB kami tiba di rumah orang tua. Tetangga malam itu sudah ramai berkumpul di rumah. Aku bergegas masuk ke rumah. Di ruang tamu kulihat terbujur tubuh ayahku tercinta. Kuciumi pipi dan kening orang yang selama ini menyayangi dan membesarkan aku. Air mataku pun makin bercucuran melihat ibu dan adik-adikku ikut menangis. Malam itu kakak-kakakku, adikku dan keluarga orang tuaku yang berasal dari luar kota mulai berdatangan.

Kamis, 10 April 2014

Setelah dishalatkan di masjid dekat rumah, sekitar pukul 10.00 almarhum ayahku dimakamkan dengan diantarkan oleh orang-orang yang mencintainya.

Rest In Peace
Rest In Peace
IMG_20150120_193735
Rest In Peace

Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahannya. Terimalah amal ibadahnya. Berikanlah tempat yang sebaik-baik tempat di sisiMU ya Allah. Berilah kami kekuatan dan ketabahan dalam menjalani hari-hari kami setelah kepergiannya. Terima kasih ayah atas kasih sayang yang kau limpahkan kepada kami…..

Selamat jalan ayah… Semoga ayah beristirahat dengan tenang di sisi-Nya….

Amin ya Rabbal ‘Alamin………………

 

 TAMAT

 


Silahkan tinggalkan komentar anda. No SARA dan Iklan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s